Adaptasi Perubahan Iklim dan Kearifan Lokal Ala Petani Landawe

“Petani Palawija Desa Polara Indah Memanen Kacang Tanah Di Lahan Pombahora Pinggiran Sungai Landawe, Kab. Konawe Utara” Dok. Teras.

Oleh: Rudy Ibrahim – Pareco Teras

Juharis petani lokal pemilik lahan sawah seluas 5ha di pinggiran sungai Landawe desa Tambakua. Bercocok  tanam padi dan palawija antara bulan Desember/Januari dan memanen saat April/Mei. Selain padi, tanaman palawija yang diusahakan biasanya jagung, kedele dan kacang hijau. Kardin ketua kelompok tani Samaturu desa Polora Indah menanam padi , jagung, kedele dan kacang tanah secara monokultur dan tumpangsari di lahan seluas 3ha. Lahan sawah yang terletak di dekat aliran sungai Landawe diolah pada bulan Desember/Januari dan panen saat bulan Maret /April.

Di Tanah Air, petani memiliki berbagai variasi kalender musim tanam dalam menetapkan pedoman waktu kegiatan pertanian. Istilah kalender musim di beberapa wilayah meliputi Wariga (Bali), Pranata Mangsa (Sunda), Pranoto Mongso (Jawa), Perhalaan (Batak), Bulan Berladang (Dayak) dan Palontara (Sulawesi Selatan), dan di wilayah Landawe Konawe Utara Sulawesi Tenggara digunakan istilah Sio-sio.

Kalender musim ini  dijadikan sebagai acuan dalam kegiatan bercocok tanam dan diwariskan secara turun-temurun. Kearifan lokal dan tradisi tersebut digunakan oleh para petani untuk menetapkan pola dan waktu tanam di wilayah pertaniannya.

Kakek moyang pendahulu telah membuat kalender tahunan berdasarkan fenomena alam seperti tingkah laku binatang dan pertumbuhan tanaman, letak bintang di jagat raya, serta pengaruh bulan purnama terhadap pasang surut  air laut. Selama bertahun-tahun para pendahulu mencermati dan menghafal pola musim, iklim, dan fenomena alam lainnya.  Interaksi dan harmoni yang erat antara air, tanah dan manusia serta lingkungan mengasah pengetahuan petani terhadap air, tanaman, kondisi klimatis, daerah aliran sungai dan lahan pertanian. Pengetahuan tersebut yang memunculkan kearifan lokal dalam bentuk kalender musim tanam sio-sio yang menjadi pedoman dalam bercocok tanam di wilayah DAS Landawe.

Penetapan waktu tanam dan pola tanam yang tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan panen dan produksi tanaman pertanian. Sio-sio atau kalender musim di wilayah Landawe, secara lisan telah dijadikan acuan temurun oleh para petani lokal untuk membaca perubahan cuaca dan musim tanam. Kalender musim dan pola tanam tersebut telah ajeg dilakukan untuk menghindari kegagalan panen karena perubahan cuaca.

Saat ini petani lokal menerapkan kalender musim sio-sio di lahan kering pombahora (bahasa Tolaki/Landawe) dalam dua periode tanam yaitu musim tanam pertama bulan Desember hingga April dan musim tanam kedua pada bulan Juli hingga November.

Lahan kering pombahora umumnya dikelola dengan sistem tumpangsari. Jenis tanaman yang diusahakan untuk bahan pangan dan palawija meliputi padi ladang, jagung lokal, kedele, kacang tanah, kacang hijau. Selain tanaman semusim dalam pombahora juga biasa ditanami sayuran, buah-buahan dan tanaman tahunan. Umumnya tanaman tahunan yang diusahakan adalah kelapa dalam. Selain diambil hasilnya, kelapa juga digunakan sebagai tanaman penanda kepemilikan pombahora.

Secara tradisionil, untuk sarana memenuhi kebutuhan pangan dan akses ekonomi serta mobilitas masyarakat lokal yang banyak berhubungan dengan sungai, para petani perintis membuka lahan pombahora di sekitar daerah aliran sungai Lalindu dan Landawe. Keluarga Towia termasuk perintis awal lahan pombahora di Tambakua pada tahun 1983, bersama kerabatnya asal desa Landawe kecamatan Oheo mengawali rintisan lahan pertanian sepanjang sungai Landawe cikal bakal desa Tambakua.

Pada tahun 1987 areal lahan kering pombahora dibuka untuk ditanami padi ladang, kacang tanah, kacang hijau, jagung lokal dan kedele serta kelapa.

“Rumah Panggung di Lahan Pombahora Desa Tambakua” Dok. Teras

Komoditas tanaman pangan semusim yang dibudidayakan dengan sistem terjadwal dua kali setahun dimanfaatkan oleh petani untuk memenuhi kebutuhan pangan dan ekonomi keluarga.

Agar pola dan kalender musim tanam berjalan sesuai jadwal, umumnya ada dukungan keluarga petani saat pengolahan lahan hingga pemanenan hasil pertanian. Pelibatan keluarga petani secara kolektif gotong-royong saat menanam benih padi atau palawija dikenal dengan motasu (bahasa lokal Landawe/Tolaki).  Motasu dalam sistem pertanian lahan kering dilakukan secara kolektif agar penanaman bisa dilakukan serempak dan terjadwal sehingga tidak meleset dari kalender musim tanam. Selama beberapa waktu peran motasu telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam budaya tani masyarakat lokal.

Ambotang petani pemilik lahan sawah dan palawija seluas 6ha di desa Polora Indah, bertahun-tahun menikmati hasil motasu yang berlimpah berkat kesuburan tanah di aliran Landawe.  Lumpur hitam subur yang banyak mengandung bahan organik dari hulu sungai terkadang terbawa banjir siklus lima hingga sepuluh tahunan. Terkadang banjir membawa musibah merendam lahan pombahora, namun limpahan air banjir juga membawa berkah tanah organik yang menyuburkan lahan yang terendam.

Dalam kurun waktu bertahun-tahun petani hafal dengan siklus banjir lima hingga sepuluh tahunan tersebut, mereka membuat rumah kebun berbentuk panggung dengan konstruksi tiang kayu besi untuk bernaung dan berlindung dari banjir. Petani juga menerapkan pola tanam dan kalender musim sio-sio sesuai jadwal tanam dan panen untuk menyelaraskan dengan kondisi alam dan menyelamatkan hasil panen dari banjir musiman. Siklus hidrologi yang terekam dalam sio-sio menciptakan harmoni agro-ekosistem di wilayah DAS Landawe dalam kurun waktu yang panjang.

Dewasa ini kearifan lokal dalam bentuk kalender musim dan pola tanam tidak dapat sepenuhnya dipedomani untuk menetapkan awal musim tanam karena bumi mengalami perubahan iklim.  Anomali cuaca saat ini menyebabkan pergeseran musim tanam dan pola tanam. Akibatnya petani sering mengalami kendala kekurangan air ataupun banjir, khususnya pada saat periode kering yang berlangsung lebih lama ataupun intensitas curah hujan tinggi dalam kurun waktu yang pendek. Seringkali kondisi tersebut kurang mendapat perhatian, sehingga kerugian demi kerugian serta penurunan produksi secara berkelanjutan dirasakan petani.

Menurut Juliadin kepala desa Tambakua, dalam rentang sepuluh tahun terakhir ini banjir besar hampir setiap tahun menggenangi kawasan pemukiman dan lahan pertanian di wilayah tersebut.  Bahkan dalam lima tahun terakhir ini banjir bandang berlumpur coklat kemerahan membuat tanaman padi mati dan areal pombahora tidak bisa lagi ditanami padi. Di desa Polara Indah, Roslina perempuan petani bahkan menjadi korban banjir bandang tahun 2017 seluruh rumah dan hasil pertaniannya ludes tersapu banjir. Ada banyak pemukiman warga dan areal pertanian sekitar DAS Landawe yang hanyut maupun terendam lumpur pekat berhari-hari.

Nampaknya banjir masih akan menjadi momok berkepanjangan bagi pemukim dan petani di wilayah ini. Kekhawatiran tersebut terlihat dari semakin meluasnya areal hutan yang dibuka untuk penambangan dan peruntukan lain di kawasan pegunungan dan bagian hulu sungai Landawe.

Diperlukan revisi tata ruang yang pro lingkungan dan iklim serta kebijakan tata kelola sumberdaya alam yang berkelanjutan dari pemerintah daerah agar keselarasan dan kesinambungan kehidupan serta keseimbangan ekosistem di kawasan DAS Lasolo dan Sub DAS Lalindu-Landawe Kabupaten Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara dapat lestari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *