RENCANA AKSI DAERAH (RAD) ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DAN PENGURANGAN RISIKO BENCANA (RAD API-PRB)
Tim RAD Komunitas Teras

Perubahan iklim global telah menjadi fakta dan menimbulkan dampak negatif yang cukup luas pada berbagai sektor kehidupan manusia. Terjadinya pemanasan global sebagai akibat dari meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menjadi pemicu utama terjadinya perubahan iklim. Peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer akibat emisi yang dihasilkan dari sektor insdutri, transportasi, domestik (rumah tangga)dan kebakaran hutan, telah melampaui kemampuan alam untuk menyerapnya. Laporan dari World Meteorological Organization, tahun 2015 dan 2016 tercatat oleh sebagai tahun terpanas dalam seratus tahun terakhir. Kejadian cuaca ekstrem juga semakin sering terjadi, dan pola musim semakin sulit diperkirakan. Perubahan iklim akan meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem dan berimplikasi terhadap meningkatnya kejadian bencana hidrometereologi.

Data kejadian bencana global menunjukkan bahwa pada tahun 2005 – 2014, kurang lebih 10 tahun setelah penerapan kerangka aksi Hyogo (Hyogo Framework), lebih dari 700 ribu orang yang kehilangan nyawa, lebih dari 1,4 juta orang yang cedera dan sekitar 23 juta orang kehilangan tempat tinggal akibat bencana. Total kerugian yang ditimbulkan lebih dari 1,3 trilyun dollar US. Peningkatan frequensi dan intensitas bencana secara significant telah menghambat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) (UNISDR, 2015). Selanjutnya, Djalante dan Thomalla (2012) mengemukakan bahwa percepatan terjadinya perubahan iklim telah meningkatkan frekwensi, magnitude dan keberagaman jenis-jenis bencana hidrometereologi di dunia.

Perubahan iklim tidak saja menyebabkan peningkatan kejadian bencana dan kerugian yang ditimbulkannya, tetapi juga membawa dampak negatif terhadap berbagai sektor kehidupan, antara lain sektor kehutanan dan lingkungan hidup, sektor pertanian, sektor perikanan dan kelautan, sektor kesehatan, sektor pemukiman, sektor transportasi (darat dan laut), sektor air bersih dan sanitasi serta berbagai sektor lainnya. Didalam menghadapi dampak negatif perubahan iklim, para ahli menyepakati 2 (dua) strategi yang dikembangkan adalah strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Strategi mitigasi dikembangkan untuk menurunkan angka emisi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Sementara strategi adaptasi dalam rangka untuk melakukan penyesuaian terhadap sistem kehidupan manusia maupun sistem alamiah untuk mencegah terjadinya dampak yang lebih buruk terhadap kehidupan manusia dan kelestarian lingkungan.

Mengutip pengantar dari Prof. Armida S. Alisjahbana dalam dokumen Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (2014) yang mengatakan bahwa upaya dan strategi adaptasi, baik untuk jangka pendek, menengah, maupun untuk jangka panjang dirasakan perlu untuk melindungi masyarakat termiskin dan menghindari kerugian ekonomi yang lebih besar dikemudian hari akibat perubahan iklim. Di Indonesia dampak ekonomi perubahan iklim diperkirakan sangat besar walaupun masih sulit untuk diperhitungkan secara pasti.

Dokumen Rencana Aksi Perubahan Iklim 2014-2019 menjadi kerangka acuan dasar didalam mengembangkan sistem pembangunan nasional yang responsif dan adaftif terhadap perubahan iklim. Adanya dokumen ini memberi arah bagi sinergitas antar sektor dan pelaku pembangunan didalam menyusun rencana aksi dan mengintegrasikannya kedalam dokumen perencanaan dan penganggaran pembangunan (RPJMN dan RKP). Disamping itu, upaya ini merupakan bentuk partisipasi bangsa Indonesia terhadap upaya global didalam mengambil bagian strategis dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim global. Seperti kita ketahui bahwa Pemerintah Indonesia dalam Undang-Undang nomor 16 tahun 2016 tentang Pengesahan Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim.

Rencana Aksi Nasional yang telah diusung sejak tahun 2014 tentunya tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya kesinambungan hingga ke pemerintah daerah di Indonesia. Sebagai salah satu bentuk kesadaran dan upaya untuk mensinergikan upaya adaptasi perubahan iklim secara nasional, maka dirasa perlu untuk melakukan kajian dalam rangka penyusunan dokumen Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana (RAD API-PRB). Pemerintah Kota Kendari pada tahun 2019 ini mencoba menyusun dokumen RAD API-PRB sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya adaptasi perubahan iklim dan pengurangan resiko bencana.

Kota Kendari terletak di sebelah Tenggara Pulau Sulawesi memilik luas wilayah daratan mencapai 267,37 Km2 atau 0,7 persen dari luas daratan Provinsi Sulawesi Tenggara. Kota Kendari sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara secara astronomis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa berada di antara 3° 54’ 30” – 4° 3’ 11” Lintang Selatan dan membentang dari Barat ke Timur di antara 122° 23’ – 122° 39’ Bujur Timur. Dengan bentang alam yang berupa perbukitan dan kawasan hulu dari beberapa sungai menjadikan Kota Kendari sebagai wilayah yang rentan terpapar bencana sebagai bagian dari efek perubahan iklim. Kota Kendari dengan visinya mewujudkan kota yang layak huniberbasis ekologi, informasi dan teknologi merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi bencana yang tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, Kota Kendari telah mengalami beberapa kerugian yang dirasakan akibat hadirnya bencana alam sebagai dampak dari perubahan iklim, serta besarnya kerugian yang dirasakan baik oleh masyarakat maupun pemerintah akibat kerentanan akan bencana. Ketidaksiapan pemerintah dan masyarakat terhadap perubahan iklim yang dapat memberikan dampak negatif tidak dapat lagi dibiarkan, sehingga dirasa perlu untuk melakukan strategi dan kebijakan terkait adaptasi terhadap perubahan iklim dan pengurangan resiko bencana.

            Selain itu, potensi sumber daya alam Kota Kendari yang terhampar kedalam berbagai sektor kehidupan, seperti sektor kehutanan dan lingkungan hidup, sektor pertanian, sektor perhubungan, sektor kesehatan, sektor sanitasi dan air bersih harus diorientasikan untuk memiliki daya saing sekaligus ketangguhan dan kapasitas adaptasi yang baik terhadap perubahan iklim. Dalam konteks ini maka penyusunan dokumen Rencana Aksi Daerah terhadap Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana (RAD API-PRB) dipandang sangat tepat. Dokumen ini diharapkan dapat menjadi kerangka acuan bagi stakeholders didalam mengimplementasikan aksi-aksi perubahan iklim dan mewujudkan ketangguhan Kota Kendari di masa depan.