Selangkah Untuk Bumi Yang Lebih Baik

Kajian Pelingkupan (Scoping Study)

Pada tahun 2019, Komunitas Teras bersama Konsultan Individual, Budiono, melakukan Kajian Pelingkupan terhadap beberapa komoditas perkebunan untuk wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Komoditas perkebunan yang menjadi pilihan diantaranya adalah; kelapa sawit, coklat, kelapa dalam, kopi, dan jagung. Dari kelima komoditas tersebut, dilakukan lah studi dokumen yang menghasilkan keputusan untuk memilih kelapa sawit, coklat dan kelapa dalam. Sedangkan untuk wilayah, dari dua provinsi yang ditawarkan oleh OXFAM Indonesia, dari hasil kajian dokumen, ditentukanlah Kabupaten Konawe dan Konawe Utara untuk Provinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Morowali dan Morowali Utara untuk Provinsi Sulawesi Tengah.

Scoping study ini merupakan assessment awal untuk mempelajari bagaimana rantai pasok komoditas pertanian yang telah disebut sebagai obyek kajian tadi di 4 kabupaten di 2 provinsi Sulawesi: Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Sebagaimana assessment, kajian ini merupakan observasi cepat yang disertai survey dengan menggunakan assessment partisipatif perdesaan (PRA) yang tidak penuh—mengingat waktu (timeline) yang terbatas. Namun meski demikian, langkah dan strategi lapang untuk memperoleh dan menggali data secara memadai pada obyek tersebut di awal (sebelum ke lapangan) telah ditetapkan proses desk study yang mempelajari data-data dan informasi terutama kebijakan (yang pernah ada dan masih berlangsung) pemerintah daerah. Untuk itu, di level ini studi ini mula-mula menetapkan data dan informasi yang sifatnya makro untuk dikaji. Umumnya data-data dan informasi ini datang dari sumber-sumber terbuka, termasuk dari instansi dan lembaga pemerintahan daerah sendiri—seperti dinas perkebunan pertanian, Badan Pusat Statistik kabupaten dan dokumen-dokumen induk perencanaan pembangunan daerah.

Dalam studi dan assessment di lapangan, kami telah membentuk FGD G-1 (diskusi kelompok terfokus bagi kalangan pejabat pemerintah di sektor pertanian dan perkebunan dan yang terkait) untuk mendiskusikan data-data dan informasi yang telah kami kaji, dan isu-isu aktual dan yang ada (existing) di tingkat kebijakan pemerintah daerah. Di dalam hal ini, kami mendalai tentang agenda dan minat pemerintah terhadap pembangunan ekonomi pertanian di sektor perkebunan rakyat, khususnya pada 3 komoditas pertanian perkebunan yang menjadi obyek kajian ini.

Setelah itu, data-data dan informasi yang didaur dalam proses FGD G-1 ini melahirkan produk data yang termutakhirkan (data terbaru) tentang bagaimana petani menjalankan tata-produksi perkebunan sawit, kakao dan kelapa dalam. Lalu bagiamana produk-produknya didistribusikan dan menciptakan rantai pasok.Meski sebenarnya dalam forum diskusi ini belum terungkap sebenarnya bagaimana harga mengalami perubahan dan pergeseran, terutama kopra yang jatuh drastis.Dan bagaimana kelompok petai terbentuk, bagaimana pola penguasaan lahan dan pengurusan lahan serta kegiatan pasca produksi (pasca panen) tak banyak muncul di forum ini.Tetapi pendalaman-pendalaman selanjutnya dilakukan di tingkat petani, komunitas, dan para pemangku kepentingan.Prosesnya melalui wawancara dan observasi di bawah.Untuk menemukan isu besar di tingkat bawah ini, FGD G-2 (diskusi kelompok terfokus bagi petani dan komunitas) digelar sekaligus ini mejadi wahana/media untuk melakukan triangulasi dan cek-ulang data-data mikro yang telah didapat di lapangan dan data-data makro yang diperoleh dari instansi/lembaga pemerintah daerah.

Pada masing-masing komoditas yang dikaji, Sawit memiliki persoalan ketimpangan relasi petani-pengusaha dalam skema plasma di Konawe Utara, terutama dalam hal penentuan bagi-hasil.Sementara bagi petani swadaya sebenarnya kondisi keuntungan dari usaha perkebunan sawit mandiri tidak lebih baik dari pada petani plasma di Konawe maupun di Konawe Utara.Tetapi hal ini berbeda kondisinya dan keadaanya dengan para petani mandiri di Morowali dan Morowali Utara yang relatif diuntungkan oleh sawit.Sementara untuk kelapa dalam yang produk olahannya menjadi kopra, saat ini sedang terpuruk oleh rendahnya harga jual.Beberapa pengolah kopra (usaha skala rumah tangga) di beberapa kecamatan, misalnya, di Konawe mengalami pengurangan jumlah pelaku atau pengurangan jumlah kapasitas produksi.Sementara kopra di Sulawesi Tengah masih relatif dapat memberi alternatif bagi petani untuk menikmati hasil buminya di antara penghasilan pertanian lainnya.

Untuk kakao, di wilayah keempat kabupaten yang menjadi obyek scoping study ini, rata-rata sedang mengalami “Sunset Productivity” yakni mengalami surut sejak wabah penyakit dan hama banyak membuat lahan kakao tak lagi menghasilkan buah dengan jumlah banyak dan kualitas bagus. Untungnya di Kabupetan Konawe, terdengar agenda pemerintah daerahnya untuk mengembalikan “pamor” kakao ini kembali dengan melakukan peremajaan. Pemerintah tidak menganjurkan untuk alihfungsi ke sawit, sebagaimana banyak terjadi di kabupaten Konawe Utara yang baru dimekarkan dari Konawe, karena sawit dianggap akan mengganggu program cetak sawah dan proyeksi kedepan Kabupaten Konawe sebagai lumbung pangan di Sulawesi Tenggara.