Selangkah Untuk Bumi Yang Lebih Baik

Pra-Kondisi FAIR

Pada tahun 2020, sebagai tindak lanjut dari adanya Kajian Pelingkupan yang didanai oleh OXFAM Indonesia, Komunitas Teras bersama mitra lainnya yakni JKPP dan TuK Indonesia melakukan kajian pra-Kondisi sebagai bentuk kajian awal project FAIR yang berlokasi di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Kajian penilaian prakondisi inisiatif Kemitraan FAIR berlokasi di Kecamatan Landawe, Langgikima, dan Wiwirano, yang dilakukan pada bulan Juni hingga September 2020.

Data–data yang digunakan pada kajian ini terbagi atas dua jenis yakni, data nonspasial dan spasial. Data non spasial meliputi data demografi masyarakat, sosial, ekonomi, pemetaan aktor, gender, kelembagaan, serta rantai pasok komoditas. Sementara data spasial meliputi citra satelit tahun 2019, peta IUP dan HGU perkebunan sawit, peta indikatif areal perhutanan sosial, peta tanah objek reforma agraria, peta RTRW-K, dan peta komoditas.

Penelitian ini menghasilkan beberapa jenis data yang berbeda dengan alat analisisnya masing-masing. Metode analisis dari data-data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dijabarkan sebagai berikut;

Analsis Spasial

Data spasial yang digunakan berupa data primer (lapangan) dan sekunder (penginderaan jarak jauh/studi dokumen/daring). Tahap awal adalah mengolah data sekunder dengan langkah–langkah sebagai berikut:

  1. Mencari data spasial sesuai dengan lokasi penelitian.
  2. Analisis tumpang-susun Peta Indikatif PT. Sultra Prima Lestari dan PT. Damai Jaya Lestari serta menyesuaikan dengan penampakan yang ada di citra satelit, untuk mendapatkan luasan.
  3. Menumpang-susun hasil analisis peta indikatif dengan data Kawasan Hutan, Administrasi Desa BPS, Peta Indikatif Areal Perhutanan Sosial (PIAPS) Revisi III, dan Peta Tanah Objek Reforma Agraria (TORA). Kemudian akan didapat data luas dari areal yang “tumpang tindih”.
  4. Interpretasi citra satelit untuk kawasan pemukiman di sekitar hamparan sawit, akan didapat lokasi dan luas indikatifnya.
  5. Membuat tematik peta dari setiap analisis yang dilakukan yaitu sebaran sawit kedua perusahaan, sebaran pemukiman, tumpang tindih konsesi dengan kawasan hutan, tumpang tindih dengan PIAPS, dan tumpang tindih dengan TORA.

Sementara perolehan data lapangan digunakan untuk menunjukan lokasi dan luas perkebunan dari tiga komoditas potensial (sawit, kelapa, dan kakao). Data lokasi diperoleh dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) dan data luasan diperoleh dengan menggunakan wahana tanpa awak (WTA). Tahapan pengambilan data menggunakan WTA adalah sebagai berikut :

  1. Observasi lokasi kegiatan penerbangan.
  2. Melakukan perencanaan penerbangan.
    1. Titik lepas landas.
    2. Luas area penerbangan / area of interest (aoi).
    3. Jalur dan waktu terbang.
    4. Posisi GCP (ground control point) yang berguna untuk mengontrol terbangnya WTA dan menambah tingkat akurasi data hasil.
  3. Mengolah hasil foto udara dan memperbaiki kualitas foto.
  4. Memverifikasi hasil pengolahan data foto udara.

Analisis Pemetaan Aktor

Pemetaan aktor dalam penelitian ini akan dilakukan melalui baik studi dokumen maupun lapangan melalui observasi, wawancara, dan FGD. Pada umumnya, pemetaan para aktor dilakukan untuk dapat melihat dan memahami mengapa sebuah kebijakan lahir. Disamping itu, analisis ini juga digunakan untuk menentukan pendekatan yang tepat dengan beberapa aktor yang terlibat. Kemudian pemetaan aktor juga dapat membantu mengidentifikasi potensi konflik dalam sebuah kebijakan, lalu dengan terpetakannya aktor yang terlibat dalam sebuah kebijakan dapat membantu penyusunan kerjasama yang baik pada masing-masing aktor. Pemetaan aktor akan dibagi menjadi tiga jenis aktor sesuai dengan komoditas yang menjadi ruang lingkup penelitian yakni; kelapa sawit, kakao, dan kelapa.

Teknik analisis pemetaan aktor yang akan digunakan adalah stakeholder issue interrelationship diagram, dimana teknik ini digunakan untuk menganalisis berbagai jenis aktor yang berkaitan dengan satu kebijakan atau satu isu, bagaimana para aktor saling berhubungan satu dengan yang lain, serta yang melihat bagaimana potensi konflik dan kerjasama yang dapat terjadi. Selanjutnya, alat analisis terkait pemetaan aktor yang akan digunakan adalah diantaranya;

  1. Identifikasi para aktor
  2. Identifikasi rantai hubungan para aktor
  3. Identifikasi ketertarikan/kepentingan para aktor
  4. Identifikasi posisi dan peran para aktor
  5. Identifikasi pengaruh para aktor

Analisis Sosial Ekonomi

Untuk mendapatkan data terkait kondisi sosial ekonomi masyarakat, penelitian ini akan menggunakan pendekatan Participative Rural Appraisal (PRA) atau yang juga biasa disebut penilaian perdesaan secara partisipatif. Prinsip utama dalam pendekatan ini adalah partisipatif, dimana masyarakat yang menjadi target penelitian diperlakukan sebagai mitra dalam pengumpulan dan analisis data atau dengan kata lain, pendapat masyarakat terkait kondisi penghidupan mereka sangat dihargai dan dianggap penting. Dalam pelaksanaannya, level partisipasi dalam penelitian ini akan terdiri dari 4 tahap yakni;

  1. Informing, masyarakat akan diberi tahu oleh peneliti sebagai orang luar, terkait proyek atau penelitian yang akan dilakukan
  2. Consulting, masyarakat akan diberikan kesempatan untuk menyampaikan pemikiran mereka dan memberikan masukan
  3. Partnership, masyarakat dan peneliti akan saling berbagi pengetahuan dan tanggung jawab untuk bersama-sama mencapai tujuan penelitian. Dalam tahap ini, masyarakat dan peneliti adalah partner.
  4. Self-management, pada tahap ini diharapkan masyarakat dapat berinisiatif dalam aksi kolektif untuk pengembangan diri dan kelompok mereka.

Selain itu, pendekatan menggunakan metode PRA ini akan membantu peneliti dalam memahami mengapa masyarakat melakukan apa yang mereka kerjakan, mengapa, lalu bagaimana. Selain itu, PRA juga diketahui dapat dengan baik mengungkapkan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, aspirasi mereka, dan sumber daya apa saja yang mereka miliki. Data terkait sosial ekonomi dapat dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara, dan FGD. Adapun alat analisis yang akan digunakan untuk data sosial ekonomi adalah sebagai berikut;

  1. Observasi desa/kecamatan
  2. Peta/denah desa/kecamatan
  3. Transek desa/kecamatan
  4. Timeline desa/kecamatan
  5. Analisis kejadian
  6. Kalender musim
  7. Diagram rantai sumberdaya
  8. Perengkingan masalah
  9. Penyebab masalah
  10. Perengkingan solusi

Analisis Gender

Analisis gender yang akan digunakan yaitu mengidentifikasi posisi, kedudukan, pembagian kerja dalam pengelolaan sumber daya. Alat analisis gender yang akan dipakai untuk modul ini adalah model Harvard. Alat analisis ini cocok untuk melihat pembagian kerja gender, peran dalam pengambilan keputusan, serta akses dan kontrol atas sumberdaya yang kelihatan.  Metode ini juga untuk mengetahui perubahan keadaan masyarakat (perubahan sosial) melalui peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat, yang disertai dengan penguatan kelompok perempuan sehingga ketimpangan gender bisa dikurangi atau dihilangkan. Artinya, pemberdayaan masyarakat pada umumnya dengan memperhatikan pemberdayaan kelompok wanita secara khusus.

Kerangka Harvard terdiri dari beberapa komponen antara lain Profil Aktifitas, Profil Akses dan Kontrol dan Analisis Faktor Pengaruh Aktivitas. Aspek-aspek yang akan disoroti antara lain :

  1. Pembagian kerja laki-laki dan perempuan
  2. Gambaran waktu dan tempat kerja produktif dan reproduktif
  3. Akses, kontrol dan kepemilikan sumber daya oleh laki-laki atau perempuan
  4. Gambaran partisipasi sipil dan politik pada perempuan maupun laki-laki
  5. Pola pengambilan keputusan di dalam keluarga

Analisis Kelembagaan

Analisis kelembagaan atau yang biasa juga disebut sebagai pranata sosial juga merupakan satu aspek yang cukup penting dalam melihat bagaimana masyarakat beraktivitas dalam lingkungan sosialnya dan menjadi salah satu indikator kekuatan di dalam sebuah hubungan kolektif. Beberapa dari fungsi kelembagaan adalah diantaranya sebagai pedoman dan pegangan dalam sistem sosialnya, menjaga keutuhan masyarakat, dan menjadi kekuatan kolektif. Dalam menganalisis kelembagaan, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah elemen-elemen yang terdapat dalam kelembagaan itu sendiri diantaranya;

  1. Kompetensi Sumber Daya Manusia
  2. Tatanan nilai yang dipegang oleh masyarakat
  3. Kepemimpinan dalam masyarakat
  4. Struktur dan organisasi sosial
  5. Manajemen sosial

Analisis Kemitraan

Penilaian terhadap kemitraan dilakukan dengan menggunakan alat kerja penilaian FAIR Company-Community Partnerships (Oxfam 2014) meliputi 4 prinsip dan 14 kriteria yang dimodifikasi. Berikut ini adalah matriks prinsip dan kriteria dari penilaian kemitraan FAIR.